Qur'an&Sunnah

Apa yang diajarkan Al-Qur'an tentang kesabaran (sabar)?

Assalamu'alaikum! Semoga Anda dalam keadaan baik. Terima kasih telah mengajukan pertanyaan yang sangat penting ini mengenai kesabaran dalam Islam. Kesabaran adalah salah satu pilar utama dalam kehidupan seorang Muslim, dan Al-Qur'an serta Sunnah banyak membahasnya.

Berdasarkan sumber-sumber yang saya miliki, berikut adalah penjelasan mengenai kesabaran dalam ajaran Islam:

Definisi dan Hakikat Kesabaran

Secara etimologis, sabar berarti menahan diri. Dalam terminologi syariat, sabar adalah menahan diri dari sesuatu yang tidak disukai, baik itu berupa kesulitan, musibah, maupun godaan hawa nafsu (Gazâlî — İhyâü Ulûmi'd-Dîn, s. V04/P061–V04/P062). Kesabaran merupakan salah satu pondasi keimanan yang sangat penting. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah berkata bahwa keimanan dibangun di atas empat pilar: keyakinan (yaqin), kesabaran (shabr), jihad, dan keadilan. Beliau juga menyamakan kedudukan sabar dalam keimanan seperti kepala pada badan; tidak ada badan tanpa kepala, dan tidak ada iman tanpa sabar (Ebû Tâlib el-Mekkî — Kûtü'l-Kulûb, s. V01/P324–V01/P326).

Tingkatan dan Jenis Kesabaran

Para ulama membagi kesabaran menjadi beberapa tingkatan dan jenis, di antaranya:

  1. Sabar dalam Menjalankan Perintah Allah (Shabr 'ala Ath-Tha'at): Ini adalah kesabaran untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, seperti shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya, meskipun terasa berat bagi jiwa dan raga (Ebû Tâlib el-Mekkî — Kûtü'l-Kulûb, s. V01/P331–V01/P332; İbn Hacer — Fethu'l-Bârî, s. V11/P302).
  2. Sabar dalam Menjauhi Maksiat (Shabr 'anil Ma'shiyat): Ini adalah kesabaran untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah, meskipun ada dorongan hawa nafsu atau kebiasaan yang kuat (Ebû Tâlib el-Mekkî — Kûtü'l-Kulûb, s. V01/P331–V01/P332; Gazâlî — İhyâü Ulûmi'd-Dîn, s. V04/P070–V04/P071; İbn Hacer — Fethu'l-Bârî, s. V11/P302).
  3. Sabar dalam Menghadapi Musibah (Shabr 'alal Mushibat): Ini adalah kesabaran ketika tertimpa musibah, cobaan, atau kesulitan hidup, seperti kehilangan harta, orang terkasih, atau sakit (Ebû Tâlib el-Mekkî — Kûtü'l-Kulûb, s. V01/P331–V01/P332; Gazâlî — İhyâü Ulûmi'd-Dîn, s. V04/P061–V04/P062).

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa kesabaran dalam Al-Qur'an memiliki tiga tingkatan: kesabaran dalam menunaikan kewajiban Allah (mendapat 300 derajat), kesabaran dalam menjauhi larangan Allah (mendapat 600 derajat), dan kesabaran dalam musibah pada saat pertama kali terjadi (mendapat 900 derajat). Tingkatan kesabaran dalam musibah ini lebih tinggi karena seringkali membutuhkan tingkat keyakinan (yaqin) yang lebih kuat (Ebû Tâlib el-Mekkî — Kûtü'l-Kulûb, s. V01/P331–V01/P332).

Keutamaan Kesabaran dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Al-Qur'an dan Sunnah sangat menekankan keutamaan kesabaran. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan sungguh, Kami akan menguji kamu sekalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 155-157) (Kutubî — el-Câmi' li-Ahkâmi'l-Kur'ân, s. V01/P370–V01/P374; İbn Kesîr — Tefsîrü'l-Kur'âni'l-Azîm, s. V01/P446)

Allah juga berfirman:

"Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46) (Ebû Tâlib el-Mekkî — Kûtü'l-Kulûb, s. V01/P324–V01/P326; Fahreddin Râzî — Mefâtîhu'l-Gayb, s. V04/P131)

Dalam hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (Muttafaq 'alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, meskipun tidak secara eksplisit disebutkan dalam kutipan yang diberikan, namun maknanya tersirat dalam banyak teks). Beliau juga bersabda, "Kesabaran adalah separuh dari iman." (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi, dinilai sahih oleh Al-Albani). (Ebû Tâlib el-Mekkî — Kûtü'l-Kulûb, s. V01/P324–V01/P326; Gazâlî — Mukâşefetü'l-Kulûb).

Manfaat dan Buah Kesabaran

Kesabaran membawa banyak manfaat, di antaranya:

  • Mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari Allah (QS. Al-Baqarah: 153) (Kutubî — el-Câmi' li-Ahkâmi'l-Kur'ân, s. V01/P370–V01/P374).
  • Mendapatkan rahmat, shalawat dari Allah, dan petunjuk (QS. Al-Baqarah: 157) (Gazâlî — İhyâü Ulûmi'd-Dîn, s. V04/P061–V04/P062).
  • Mendapatkan pahala yang berlipat ganda, bahkan tanpa dihitung (QS. Az-Zumar: 10) (Ebû Tâlib el-Mekkî — Kûtü'l-Kulûb, s. V01/P324–V01/P326; Kutubî — el-Câmi' li-Ahkâmi'l-Kur'ân, s. V01/P370–V01/P374).
  • Menjadi pemimpin dalam ketakwaan (QS. As-Sajdah: 24) (Ebû Tâlib el-Mekkî — Kûtü'l-Kulûb, s. V01/P324–V01/P326).
  • Membantu dalam menghadapi kesulitan hidup dan godaan hawa nafsu.

Kesabaran adalah sifat mulia yang sangat dicintai Allah. Dengan kesabaran, seorang Muslim dapat menjaga hubungannya dengan Allah, menghadapi ujian-Nya, dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sumber

Jawaban hanya bersandar pada sumber klasik domain publik dan menyebutkannya. Untuk masalah pribadi, mohon bertanya kepada ulama yang berkompeten.

Pertanyaan