Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga Anda dalam keadaan baik. Terima kasih telah mengajukan pertanyaan yang menarik tentang keyakinan umat Islam terhadap para nabi. Saya akan berusaha menjelaskan hal ini berdasarkan sumber-sumber yang saya miliki.
Keyakinan Umat Islam terhadap Para Nabi
Umat Islam meyakini bahwa para nabi adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diutus untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia. Mereka adalah manusia pilihan yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.
-
Tujuan Utama Para Nabi adalah Tauhid: Semua nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki misi utama yang sama, yaitu mengajak manusia untuk menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an:
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya': 25) (Ibn Katsir — Tafsir Al-Qur'an Al-Azim, Juz 3, hlm. 381-382; Thabari — Jami'ul Bayan, Juz 16, hlm. 249-250). Nabi Nuh, Ibrahim, Yusuf, Musa, dan para nabi lainnya senantiasa menyeru kaumnya untuk menjadi seorang Muslim (berserah diri kepada Allah). (Ibn Katsir — Tafsir Al-Qur'an Al-Azim, Juz 3, hlm. 381-382).
-
Para Nabi adalah Manusia Biasa: Para nabi bukanlah malaikat, melainkan manusia yang makan, minum, dan berjalan di pasar. Mereka tidak dijadikan sebagai sesembahan. Allah berfirman:
"Dan Kami tidak menjadikan mereka (para rasul) sebagai tubuh yang tidak memakan makanan, dan mereka tidak (pula) kekal." (QS. Al-Anbiya': 8) (Thabari — Jami'ul Bayan, Juz 16, hlm. 227-230). Malaikat pun adalah hamba Allah yang mulia, tidak mendahului-Nya dalam berfirman dan senantiasa beramal sesuai perintah-Nya. (Thabari — Jami'ul Bayan, Juz 16, hlm. 249-250).
-
Perjanjian (Misaq) Para Nabi: Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengambil perjanjian dari setiap nabi yang diutus-Nya. Perjanjian ini adalah bahwa apabila datang seorang rasul setelah mereka yang membenarkan kitab yang mereka bawa, maka mereka wajib beriman kepadanya dan menolongnya.
"Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, 'Sesungguhnya apa pun yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada dirimu, niscaya engkau akan beriman kepadanya dan menolongnya.' Allah berfirman, 'Apakah kamu setuju dan memikul janji-Ku ini?' Mereka menjawab, 'Kami setuju.' Allah berfirman, 'Kalau begitu, saksikanlah (hai para nabi) dan Aku pun termasuk saksi bersama kamu. Maka siapa yang berpaling setelah itu, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.'" (QS. Ali Imran: 81-82) (Ibn Katsir — Tafsir Al-Qur'an Al-Azim, Juz 2, hlm. 65-67; Thabari — Jami'ul Bayan, Juz 5, hlm. 541; Kurtubi — Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an, Juz 14, hlm. 125-127; Razi — Mafatihul Ghaib, Juz 8, hlm. 101). Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berpendapat bahwa perjanjian ini diambil dari semua nabi, termasuk Nabi Adam 'alaihissalam, untuk beriman dan menolong Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam jika beliau diutus di masa mereka. (Ibn Katsir — Tafsir Al-Qur'an Al-Azim, Juz 2, hlm. 65-67; Razi — Mafatihul Ghaib, Juz 8, hlm. 101; Beğavi — Ma'alimut Tanzil, Juz 1, hlm. 308-309).
-
Keutamaan dan Perbedaan Para Nabi: Meskipun memiliki misi pokok yang sama, para nabi memiliki perbedaan dalam syariat (hukum-hukum yang dibawa) yang bersifat parsial, yang sebagian kemudian dinasakh (dihapus) oleh syariat yang dibawa nabi setelahnya, hingga akhirnya syariat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi syariat penutup yang berlaku abadi. (Ibn Katsir — Tafsir Al-Qur'an Al-Azim, Juz 3, hlm. 381-382). Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki keutamaan-keutamaan khusus yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya, seperti menjadi rasul untuk seluruh umat manusia, diutus sebagai penutup para nabi, diberikan mukjizat Al-Qur'an yang kekal, dan keutamaan lainnya. (Beğavi — Ma'alimut Tanzil, Juz 1, hlm. 308-309).
-
Kewajiban Beriman kepada Semua Nabi: Umat Islam wajib beriman kepada semua nabi yang diutus Allah. Mengingkari salah satu saja dari mereka berarti mengingkari semua nabi, karena keimanan yang benar adalah yang bersumber dari Allah.
"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Allah dan rasul-rasul-Nya, dan mereka hendak membedakan (keimanan) antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, 'Kami beriman kepada sebagian (rasul) dan kami mengingkari sebagian yang lain,' lalu mereka hendak mengambil jalan tengah di antara (cara) yang demikian. Merekalah orang-orang yang kafir yang sebenarnya. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan." (QS. An-Nisa': 150-151) (Ibn Katsir — Tafsir Al-Qur'an Al-Azim, Juz 2, hlm. 444-445). Umat Islam meyakini bahwa mereka beriman kepada semua nabi dan rasul tanpa membeda-bedakan di antara mereka. (Kurtubi — Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an, Juz 14, hlm. 125-127).
Semoga penjelasan ini memberikan gambaran yang jelas mengenai keyakinan umat Islam terhadap para nabi. Jika ada hal lain yang ingin Anda tanyakan, jangan ragu untuk bertanya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.