Qur'an&Sunnah

Apa itu tauhid, keyakinan Islam akan keesaan Allah?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih atas pertanyaan Anda mengenai tauhid, yang merupakan pondasi utama dalam keyakinan Islam. Tauhid adalah konsep yang sangat mendalam dan menjadi inti dari ajaran para nabi dan rasul.

Apa itu Tauhid?

Secara harfiah, tauhid berasal dari kata bahasa Arab "wahhada" yang berarti mengesakan atau menjadikan satu. Dalam terminologi Islam, tauhid adalah keyakinan teguh dan pengakuan bahwa Allah SWT adalah Esa (satu) dalam Dzat, Sifat, dan Perbuatan-Nya. Ini berarti meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Allah tidak memiliki sekutu, tandingan, atau serupa dalam segala aspek-Nya.

Pentingnya Tauhid dalam Islam

Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, termasuk para sufi terkemuka seperti Imam Al-Qusyairi, menekankan pentingnya tauhid yang murni. Al-Qusyairi dalam kitabnya "Ar-Risalah" menyatakan bahwa para syekh tarekat mendasarkan urusan mereka pada prinsip-prinsip tauhid yang sahih, menjaga akidah mereka dari bid'ah, dan berpegang pada ajaran salafus shalih. Tauhid yang mereka anut adalah tauhid yang bebas dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (menolak sifat-sifat Allah) (Kusyairi — Ar-Risalah, V01/P010–V01/P012).

Imam Al-Qusyairi juga mengutip perkataan Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi besar, yang mendefinisikan tauhid sebagai: "Mengesakan yang Qadim (kekal) dari yang hadits (baru)" (Kusyairi — Ar-Risalah, V01/P010). Ini berarti membedakan antara ke-kekalan Allah yang tidak didahului oleh ketiadaan, dengan segala sesuatu selain-Nya yang bersifat baru dan diciptakan.

Dalil dan Penjelasan Tauhid

Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW penuh dengan ayat dan hadits yang menegaskan keesaan Allah. Allah SWT berfirman:

{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ} "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan untuk dosamu..." (QS. Muhammad: 19).

Ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Abu Thalib Al-Makki dalam "Qut al-Qulub", menegaskan bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukmin adalah meyakini dalam hati bahwa Allah itu Esa, bukan satu dalam arti jumlah, tetapi Esa dalam keagungan, kekuasaan, dan perbuatan-Nya. Ia adalah Yang Pertama tanpa permulaan, Yang Terakhir tanpa akhir, dan keberadaan-Nya adalah sifat-Nya yang azali (Abu Thalib Al-Makki — Qut al-Qulub, V02/P135–V02/P136).

Fakhruddin Ar-Razi dalam "Mafatih al-Ghaib" menjelaskan bahwa tauhid berada di antara dua ekstrem: ta'thil (menolak sifat-sifat Allah) dan tarkib (menyekutukan Allah). Orang yang muwahhid (mengesakan Allah) meyakini bahwa Allah itu ada, dan tidak ada Tuhan lain selain-Nya. Ia juga menegaskan bahwa Allah itu Esa, tidak memiliki sekutu, tidak serupa dengan makhluk-Nya, dan tidak terbayangkan oleh akal (Fakhruddin Ar-Razi — Mafatih al-Ghaib, V28/P195–V28/P196).

Tingkatan Tauhid

Imam Al-Maturidi dalam "Kitab at-Tauhid" menyebutkan bahwa ada empat tingkatan tauhid:

  1. Pengakuan lisan: Mengucapkan syahadat.
  2. Keyakinan hati: Membenarkan keesaan Allah dalam hati.
  3. Memperkuat keyakinan dengan dalil: Memahami dan menerima dalil-dalil akal dan naql (wahyu) tentang keesaan Allah.
  4. Tenggelam dalam lautan tauhid: Menjadi hamba yang seluruh perhatiannya tertuju pada pengenalan Allah semata, tanpa terlintas hal lain selain-Nya (Al-Maturidi — Kitab at-Tauhid, V01/P118–V01/P120).

Kesimpulan

Tauhid adalah fondasi keimanan Islam yang paling fundamental. Ia bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan mendalam yang meresap ke dalam hati, membedakan Allah dari segala ciptaan-Nya, dan menjadi dasar bagi seluruh ibadah dan amal shaleh. Memahami dan mengamalkan tauhid dengan benar adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat.

Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi Anda dalam memahami konsep tauhid. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk bertanya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber

Jawaban hanya bersandar pada sumber klasik domain publik dan menyebutkannya. Untuk masalah pribadi, mohon bertanya kepada ulama yang berkompeten.

Pertanyaan